Konstruksi Kamar Mesin Kapal

Kamar mesin adalah kompartemen yang sangat krusial pada sebuah kapal. Di loka inilah masih ada mesin penggerak kapal yg umumnya dinamakan mesin induk atau mesin utama. Di kamar mesin jua terletaksumber tenaga buat membangkitkan listrik yang berupa generator listrik kapal, pompa-pompa, & beragam peralatan kerja yang menunjangpengoperasian kapal. Konstruksi kamar mesin dibentuk spesifik lantaran adanya beban-beban tambahan yang bersifat permanen, misalnya berputarnya mesin primer & mesin lainnya.Situasi generik di dalam kamar mesin dapat dicermati pada Gambar 1. Pada Gambar ini bisa ditinjau mesin utama menggerakkan baling-baling tunggal.

gambar1.Kamar Mesin yg Tidak Terletak pada Belakang1. Ambang palka2. Terowongan poros3. Ruang mesin4. Cerobonglima. Baling-baling6. Kemudi

Untuk poros antara yg melalui ruang muat, dibentuk terowongan poros baling-baling pada bagian bawah ruang muat. Selain itu ada lagi tipe kapal yang mempunyai kamar mesin langsung di belakang, maksudnya tanpa ruang palka di antara kamar mesin menggunakan ceruk buritan. Kamar mesin di tengah jarang sekali dipakai. Untuk kamar mesin pada belakang dapat dipandang dalam Gambar dua.

Gambar2. Konstruksi Kamar Mesin pada Belakang

1. Mesin primer, 2. Generator,3. Wrang kamar mesin, 4. Tangki pelumas cadangan,5. Poros antara, 6. Poros baling-baling, 7. Baling-baling, 8. Kemudi, 9. Tangki air tawar, 10. Cerobong asap

Kamar mesin pada kapal-kapal akbar umumnya lebih dari dua lantai. Pada lantai pertama atau lantai alas dalam terletak mesin primer dan dalam lantai kedua terletak generator pembangkit energi listrik. Jumlah generator lebih berdasarkan satu, & umumnya dua atau 3. Hal tadi dimaksudkan menjadi cadangan, apabila keliru satu generatornya rusak atau sedang dalam pemugaran.

Pada Gambar 3 diperlihatkan pandangan atas berdasarkan sebuah kamar mesin. Di sini dapat dipandang bahwa mesin primer terletak tepat pada bidang simetri kapal & 3 buah generator listrik terletak pada lantai yg sama.

Gambar tiga Pandangan Atas Kamar Mesin

Gambar pandangan atas kamar mesin dibuat berdasarkan pandanganatas dari lantai kamar mesin & dinamakan gambar planning rapikan letak kamar mesin.

Gambar-gambar lain yang lebih lebih jelasnya berdasarkan kamar mesin berpedoman pada gambar rencana tata letak kamar mesin, contohnya gambar fondasi mesin pompa-pompa, botol angin, keran-keran, & sistem pipa pada kamar mesin.

Wrang dalam kamar mesin dalam biasanya dipasang secara melintang.Ada kalanya pada kamar mesin digunakan konstruksi dasar ganda. Hal tadi mengingat ruang-ruang yg tersedia pada antara wrang dapat dimanfaatkan menjadi tangki-tangki, seperti tangki bahan bakar & minyak pelumas. Namun, pada hal ini nir berarti konstruksi alas tunggal sama sekali tidak digunakan. Di antara penumpu bujur fondasi mesin, modulus penampang Wrang alas boleh diperkecil hingga 40%. Tinggi pelat bilah wrang alas di kurang lebih fondasi mesin sedapat mungkin diperbesar, adalah nir terlalu kecil bila dibandingkan dengan tinggi wrang. Tinggi wrang alas yang disambung ke gading-gading sarang harus dibentuk sama menggunakan tinggi penumpu bujur fondasi. Tebal pelat tegak wrang alas tidak boleh kurang dari :

h = 55 B – 45 (mm).B = Lebar kapal (m).h minimum = 180 mm.

Pada dasar ganda, lubang-lubang peringan di sekitar fondasi mesin dibuat sekecil mungkin. Jika lubang peringan ini berfungsi jua menjadi jalan masuk orang, harus diperhitungkan menggunakan besarbadan orang rata-rata. Tepi lubang peringan usahakan diberi pelat hadap atau bidang pelatnya diperlebar menggunakan penguat – penguat, bila tinggi lubang peringan lebih besarberdasarkan ½ kali tinggi wrang. Dasar ganda pada kamar mesin wajibdipasang wrang alas penuh dalam setiap gading-gading. Tebal wrang pada kamar mesin diperkuat sebanyak (3,6 + N/500)% menurut wrang pada ruang muat. minimal lima% aporisma 15% dan N adalah daya mesin (kW). Penumpu samping yg membujur pada bawah pelat hadap fondasi yang dimasukkan kedalam alas pada wajibsetebal penumpu bujur fondasi pada atas alas pada. Hal ini sinkron menggunakan Gambar 6.4 dan perhitungan fondasi. Di pada dasar ganda pada bawah penumpu bujur fondasi, dipasang penumpu samping setebal wrang alas yg diperkuat setinggi alas ganda sinkron denganperhitungan tebal pelat tegak wrang alas. Jika dalam setiap sisi mesin terdapat 2 penumpu bujur fondasi buat mesin hingga 3.000 kW, galat satu penumpunsamping boleh dibuat 1/2 tinggi bawah alas pada. Penumpu samping yg sebagai satu dengan penumpu bujur fondasi, pemasangannya harus diperpanjang 2 hingga empat kali jarak gading melewati sekat ujung kamar mesin. Perpanjangan dua hingga empat kali tadi dihubungkan menggunakan sistem konstruksi alas menurut ruang yg bekerjasama. Di antara dua penumpu bujur fondasi, alas dalam harus dipertebal 3 mm berdasarkan yg direncanakan. Ketebalan ini diteruskan 3 hingga 5 kali jarak gading berdasarkan ujung-ujung fondasi mesin.

Fondasi kamar mesin merupakan suatu wahana pengikat agar mesin tadi permanen tegak & tegar pada posisi yang telah ditetapkan atau supaya mesin sebagai satu kesatuan dengan kapalnya sendiri. Pemasangan fondasi mesin dibuat sedemikian rupa sebagai akibatnya kelurusan sumbu poros mesin dengan poros baling-baling tetap terjamin. Hubungan antara mesin utama, fondasi mesin, dan wrang.

Kekakuan fondasi mesin dan konstruksi dasar ganda pada bawahnya wajibmencukupi persyaratan. Hal ini dimaksudkan agar deformasi konstruksi masih pada batas-batas yg diizinkan. Mulai dari tahap perencanaan & pembuatan fondasi mesin wajibdipikirkan penyaluran gaya-gayanya, baik kearah melintang juga ke arah membujur kapal.Ketebalan pelat penumpu bujur fondasi nir boleh kurang berdasarkan :t = N/15 + 6 (mm), buat N < t =" N/750" t =" N/1.875" n =" Kapal" style="text-align: justify;">apabila pada setiap sisi motor dipasang dua penumpu bujur, tebal penumpu bujur tadi dapat dikurangi 4 mm. Tebal dan lebar pelat hadap fondasi mesin harus diadaptasi menggunakan tinggi fondasi & tipe mesin yg digunakan, sebagai akibatnya pengikatan & kedudukan mesin dapat dijamin sempurna. Tebal pelat hadap paling sedikit wajibsama dengan diameter baut pas, penampang pelat hadap tidak boleh kurang berdasarkan :F1 = N/15 + (30 cm2), buat N 750 kW.F1 = N/75 + 70 (cm2) N > 750 kW.Penumpu bujur fondasi mesin harus ditumpu oleh wrang. Untuk pengikatan menggunakan las, pelat hadap dihubungkan menggunakan penumpu bujur & penumpu lintang menggunakan kampuh K. Hal tadi bila penumpu bujur lebih akbar berdasarkan 15 mm.

C. Gading & Senta pada Kamar Mesin

Perencanaan dan pemasangan gading-gading di kamar mesin pada pokoknya sama dengan pemasangan pada bagian-bagian kapal lainnya. Jadi, buat perhitungan gading-gading di kamar mesin masih menggunakan peraturan untuk gading-gading pada ruang muat. Oleh lantaran kamar mesin merupakan tempat khusus yang mendapat beban tambahan, antara lain bangunan atas atau rumah konstruksi spesifik yang dapat menyalurkan bebanbeban tersebut. Konstruksi tersebut berupa perbanyakan gading-gading besaratau sarang & senta lambung. Gading-gading besardipasang di kamar mesin & ruang ketel, bila ada ruang ketel. Adapun pemasangannya ke atas sampai ke geladak menerus teratas. apabila tinggi sisi 4 m, jarak rata-rata gading besarmerupakan tiga,lima m & jika tinggi sisi 14 m, jarak homogen-rata gading akbar adalah 4,lima m. Gading-gading akbar dipasang dalam ujung depan & ujung belakang mesin motor bakar, jika motor bakar mempunyai daya mesin hingga kira-kira 400 kW. Dan jika motor bakar berdaya kuda antara 400 – 1.500 kW, dipasang sebuah gading besartambahan dalam pertengahan panjang motor. Untuk tenaga yang lebih akbar lagi dayanya, minimal ditambah dua buah gading besarlagi.

apabila motor bakar dipasang pada buritan kapal, harus dipasang senta di pada kamar mesin, sejarak dua,6 m. Letak senta diusahakan segaris menggunakan senta di dalam ceruk buritan, bila ada, atau gading-gading besartersebut wajibdiperkuat. apabila tinggi hingga geladak yg terendah kurang menurut 4 m, minimum dipasang sebuah senta. Ukuran senta tersebut sama dengan berukuran gading besar . Untuk memilih modulus penampang gading-gading besar , ukuran penampangnya tidak boleh kurang berdasarkan :W = K 0,8 e I Ps (cm3),Di mana :e = Jarak antara gading akbar (m).I = Panjang yang tidak ditumpu (m).Ps = beban pada sisi kapal (kN/m2).

Momen kelembaman atau momen inersia gading-gading besartidakboleh kurang menurut :J = H (4,5 H – tiga,75) c 102 (cm4), buat tiga m H 10 m.J = H (7,25 H – 31) c 102 (cm4), buat H > 10 m.c = 1 + (Hu – 4) 0,07di mana :Hu = Tinggi sampai geladak terbawah (m)

Adapun Pelat apabila Gading – Gading akbar dihitung dengan rumus sebagai berikut :